Peranan AI Dalam Menanggulangi Bencana Alam
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang sangat rawan terhadap bencana. Selama 20 tahun terakhir, data dari pemerintah menunjukan telah terjadi 24.000 kejadian bencana yang menyebabkan 190.500 kematian, 37 ribu orang terlantar, dan merusak lebih dari 4,3 juta rumah. Total kerugian dari seluruh bencana tersebut mencapai 25 miliar US Dollar atau sekitar 0,33 persen dari total GDP.
Baru-baru ini, Indonesia kembali berduka. Duka tersebut disebabkan oleh dua bencana besar yang melanda di Lombok dan Palu dan Donggala. Pada tanggal 29 Juli 2018, telah terjadi gempa berkekuatan 6,4 skala richter di wilayah Pulau Lombok dan Sumbawa. Sepekan kemudian, tepatnya pada tanggal 5 Agustus 2018, Lombok kembali diguncang gempa bermagnitudo 7 SR. Dampak dari gempa tersebut sangat luar biasa. Terdapat 555 korban meninggal dan 390.529 jiwa penduduk yang mengungsi. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menunjukan bahwa nilai kerusakan dan kerugian dari gempa tersebut mencapai Rp 8,8 triliun.

Belum hilang kesedihan kita atas gempa Lombok, sekitar dua bulan kemudian bencana gempa berkekuatan 7.4 SR disertai tsunami terjadi di Palu dan Donggala. Jumlah korban meninggal dan pengungsi akibat gempa bumi dan tsunami tersebut mencapai 2.010 orang dan 74 ribu orang. Kedua bencana besar yang melanda Indonesia menunjukan pentingnya manajemen tanggap darurat bencana. Sudah saatnya kita memanfaatkan teknologi untuk membantu kita dalam masa tanggap darurat tersebut. Menurut World Economic Forum (WEF), terdapat tiga cara teknologi dapat membantu kita dalam masa tanggap darurat bencana.
Pertama, teknologi dapat berperan untuk menggantikan manusia ketika misi penyelamatan terlalu berisiko untuk dilakukan oleh manusia. Aerial Robotics atau drone memiiki potensi yang luar biasa untuk membantu manusia dalam merespon bencana yang telah terjadi. Dengan menggunakan drone, kita dapat melakukan pemetaan daerah yang terdampak bencana dengan lebih efektif, menilai kerugian secara real-time, serta mengirimkan berbagai bahan bantuan secara lebih cepat, lebih murah, dan lebih efisien. Hal ini telah dilakukan oleh lembaga We Robotics melalui program yang bernama AidRobotics. AidRobotics dapat langsung mengidentifikasi berbagai kebutuhan melalui flying labstm . Ketika terjadi bencana banjir di Peru pada November 2017, Peru Flying Labs dengan aerial robot berhasil menciptakan peta yang mampu menyediakan informasi mengenai kerusakan infrastruktur, lokasi desa yang terpencil karena bencana, menemukan area yang aman untuk dijadikan pemukiman, dan membantu menemukan rute yang efisien untuk pengiriman bantuan.
Kedua, teknologi dapat membantu manusia menciptakan konektivitas. Tidak dapat dipungkiri, pada saat bencana telah terjadi, konektivitas dasar merupakan elemen kunci yang sangat penting. Dengan adanya konektivitas, berbagai sumber daya yang dibutuhkan dapat langsung diberikan kepada pihak yang berdampak bencana. Cisco Tactical Operations (TacOps) merupakan pihak yang memanfaatkan teknologi jaringan teknologi cloud dari meraki. Teknologi tersebut digunakan untuk mendirikan konektivitas secara cepat ketika bencana telah terjadi. Tim dari TacOps terdiri dari para ahli dan spesialis infrastruktur internet yang siap membantu dimana saja dalam hitungan hari. TacOps telah berpartisipasi di enam negara dengan jumlah 45 bencana.
Ketiga, media sosial dapat menjadi langkah baru untuk turut membantu saat bencana. Peran utama dari media sosial adalah data yang terkumpul dan diolah secara real-time untuk memahami berbagai kebutuhan dari pengguna sehingga respon yang lebih efisien dapat diterapkan. World Food Programme (WFP) dan Cisco bekerja sama untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai peran SMS dan voice response untuk mengumpulkan data secara langsung dan real time dengan biaya yang lebih murah. Ketiga langkah tersebut bisa menjadi masukan yang sangat berharga bagi pemerintah Indonesia.

Sebagai tambahan, sudah saatnya Indonesia memanfaatkan big data sebagai masukan di dalam pengambilan kebijakan manajemen bencana. Big data analytics dapat menjadi suatu tren baru dalam merespon bencana. Data yang tercipta selama bencana seperti data kebutuhan personal, data urusan kesehatan, data jejak dari survivor, dan berbagai data lainnya tentu berjumlah sangat banyak. Manajemen dari data tersebut tentu sangat sulit dan menantang, namun jika dikelola dengan baik, data tersebut dapat memberikan berbagai informasi yang penting dan strategis. Tidak hanya itu, data tersebut dapat memberikan informasi bagaimana respon yang terbaik untuk dilakukan setelah bencana terjadi.
Perkembangan teknologi yang begitu cepat tentu tidak hanya dimanfaatkan di dalam sistem produksi manufaktur saja. Teknologi dapat sangat membantu manusia terutama dalam hal manajemen bencana. Sebagai negara yang berada di kawasan ring of fire, sudah saatnya Indonesia berinvestasi di bidang teknologi agar manajemen bencana dapat menjadi lebih baik
Comments
Post a Comment